" 12-12-15"
Ingatkah
kamu beberapa ratus hari yang lalu, ketika kita tak terduga dipertemukan .Dipertemukan bukan sebagai
teman atau sahabat apalagi cuma sekedar kenalan. Bukan, bukan itu. Dari awal entah
apa tujuan kamu , kamu ingin lebih dari itu.
Dari aku membuka mata hingga menutup mata, kau selalu menyapaku.
Menceritakan banyak hal, yang belum aku ketahui tentangmu. Dulu, aku baru saja
patah hati. Membuka hati untukmu, memerlukan proses yang lama. Namun, kau
meyakinkanku bahwa dunia akan bahagia jika aku bersamamu. Tak butuh waktu lama
akhirnya kita saling dekat. Tepat
tanggal 12.12.12 kau meneleponku. Kau tak banyak menceritakan banyak hal, hanya
sekedar ingin memperjelas status saja. Walau hatiku belum sepenuhnya terbuka
namun aku pikir kebetulan hari itu
tanggal yang cantik untuk memulai momen
yang special untuk mengatakan “Iya”. Kau memang bukan tipe lelaki romantis, kau
selalu terkesan kaku, namun itu memang kau, tak kaget pula caramu mengungkapkan
rasanya padaku yang terkesan terburu-buru dan dipaksakan.
Kita menjalani
hubungan LDR (Long distance relationship) sedari awal. Selama ini, aku selalu
bersabar dengan begitu sibuknya aktivitasmu. Kegiatan teleponan sudah menjadi
rutinitas wajib dari bangun tidur,
sampai tidur kembali. Kau sering membicarakan mengenai kegiatanmu yang
membuatmu lelah, sampai teman yang menjadi penyemangatmu. Aku bahagia memiliki
teman berbagi sepertimu . Aku bahagia menjalani hari-hari bersamamu.
Bulan demi
bulan kita lalui. Kita bukan manusia sempurna, mulailah banyak hal yang membuat
kita berdebat satu sama lain. Kamu lebih
banyak mengalah daripada harus bersitegang dengan seribu satu curhatanku yang
mungkin membuatmu jenuh. Perlahan muncul kebiasaanmu yang sudah mulai tak
mengabariku , membuat aku kesal setiap harinya. Sampai akhirnya
perdebatan ini hampir menaungi kita setiap malam. Bahkan, terkadang sampai
beberapa hari aku mencarimu kau tak kunjung menghubungiku. Kuakui rasanya sakit, ketika kau tak lagi
memprioritaskan aku. Ketika kau tak ada waktu lagi untuk sekedar menyapaku.Sampai
pada akhirnya, hari itu aku merasa lelah berjuang sendirian.
Selepas
sekian hari aku termenung apa yang salah dari semua ini. Mungkinkah aku terlalu
egois, terlalu menuntut banyak hal? Aku membayangkan wajah lelahmu, mendengarmu langsung bercerita soal
bagaimana hari-harimu. Membuatku tahu bahwa kamu pun sedang berjuang keras.
Aku semestinya bersabar dulu. Membiarkanmu menuntaskan
kewajibanmu. Kamu boleh menyelesaikan semua impianmu lebih dulu. Menggenapi
segala usahamu. Silakan mencoba berbagai macam hal yang selama
ini hanya ada di dalam pikiranmu. Ku pasrah perasaan ini pada Tuhan karena tulang rusuk tidak akan pernah
tertukar.
Di sini aku akan menunggu dengan sabar. Menjalani hari tanpamu yang
sedang berusaha memantaskan diri. sembari berharap Tuhan
menjaga selama kita tak bisa menatap mata. Semoga kamu segera datang.