Minggu, 13 Desember 2015

Tepatnya Malam Ini


" 12-12-15"
Ingatkah kamu beberapa ratus hari yang lalu, ketika kita tak terduga  dipertemukan .Dipertemukan bukan sebagai teman atau sahabat apalagi cuma sekedar kenalan. Bukan, bukan itu. Dari awal entah apa tujuan kamu , kamu ingin lebih dari itu.  Dari aku membuka mata hingga menutup mata, kau selalu menyapaku. Menceritakan banyak hal, yang belum aku ketahui tentangmu. Dulu, aku baru saja patah hati. Membuka hati untukmu, memerlukan proses yang lama. Namun, kau meyakinkanku bahwa dunia akan bahagia jika aku bersamamu. Tak butuh waktu lama akhirnya  kita saling dekat. Tepat tanggal 12.12.12 kau meneleponku. Kau tak banyak menceritakan banyak hal, hanya sekedar ingin memperjelas status saja. Walau hatiku belum sepenuhnya terbuka namun aku pikir kebetulan hari itu tanggal yang cantik  untuk memulai momen yang special untuk mengatakan “Iya”. Kau memang bukan tipe lelaki romantis, kau selalu terkesan kaku, namun itu memang kau, tak kaget pula caramu mengungkapkan rasanya padaku yang terkesan terburu-buru dan dipaksakan.

Kita menjalani hubungan LDR (Long distance relationship) sedari awal. Selama ini, aku selalu bersabar dengan begitu sibuknya aktivitasmu. Kegiatan teleponan sudah menjadi rutinitas  wajib dari bangun tidur, sampai tidur kembali. Kau sering membicarakan mengenai kegiatanmu yang membuatmu lelah, sampai teman yang menjadi penyemangatmu. Aku bahagia memiliki teman berbagi sepertimu . Aku bahagia menjalani hari-hari bersamamu.
Bulan demi bulan kita lalui. Kita bukan manusia sempurna, mulailah banyak hal yang membuat kita berdebat  satu sama lain. Kamu lebih banyak mengalah daripada harus bersitegang dengan seribu satu curhatanku yang mungkin membuatmu jenuh. Perlahan muncul kebiasaanmu yang sudah mulai tak mengabariku ,  membuat aku  kesal setiap harinya. Sampai akhirnya perdebatan ini hampir menaungi kita setiap malam. Bahkan, terkadang sampai beberapa hari aku mencarimu kau tak kunjung menghubungiku.  Kuakui rasanya sakit, ketika kau tak lagi memprioritaskan aku. Ketika kau tak ada waktu lagi untuk sekedar menyapaku.Sampai pada akhirnya, hari itu aku merasa lelah berjuang sendirian.

Selepas sekian hari aku termenung apa yang salah dari semua ini. Mungkinkah aku terlalu egois, terlalu menuntut banyak hal? Aku membayangkan wajah lelahmu, mendengarmu langsung bercerita soal bagaimana hari-harimu. Membuatku tahu bahwa kamu pun sedang berjuang keras.

Aku semestinya bersabar dulu. Membiarkanmu menuntaskan kewajibanmu. Kamu boleh menyelesaikan semua impianmu lebih dulu. Menggenapi segala usahamu. Silakan mencoba berbagai macam hal yang selama ini hanya ada di dalam pikiranmu. Ku pasrah perasaan ini pada Tuhan karena tulang rusuk tidak akan pernah tertukar.   
Di sini aku akan menunggu dengan sabar. Menjalani hari tanpamu yang sedang berusaha memantaskan diri. sembari berharap Tuhan menjaga selama kita tak bisa menatap mata. Semoga kamu segera datang. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar